Perkumpulan Theosofi Yang Tergabung Dalam Perwathin Menggelar Kegiatan Pelantikan Dan Pengukuhan Anggota Baru Dan Seminar Kebangsaan Dengan Tema Kebijkan Illahi Dalam Perspektif Nasionalisme

SURAKARTA,BIZZNETLINK.COM - Suasana santai tapi khidmat nampak di rumah gedung bertuliskan Persatuan Warga Theosofi Indonesia Sanggar Surakarta yang tersemat pada papan berwarna putih di Punggawan Mangkubumen, Surakarta.
Ditempat ini pada Sabtu pagi (29/7/2023) 
Perkumpulan Theosofi yang tergabung dalam Perwathin tengah menggelar kegiatan pelantikan dan pengukuhan anggota baru dan seminar kebangsaan dengan tema Kebijkan Illahi Dalam Perspektif Nasionalisme dengan Narasumber Dr. Petrus Darmadi Syahwirhadinagoro pada Minggu (30/7/2023). 
Acara tersebut juga dihadiri Ketua Pengurus Besar Perwathin, Bp. Drs. Widyatmoko, M.M.
Perkumpulan Theosofi merupakan perkumpulan yang menjunjung pengetahuan atau kebijaksanaan dalam memandang permasalahan ketuhanan.

Ketua Perwathin Sanggar Surakarta, Achmad Sutrisno mengungkapkan Theosofi bukanlah sebuah agama. Namun, lebih memahami terhadap ilmu pengetahuan atau science, membangun watak dan pengabdian. “Dalam teosofi kami diajarkan untuk saling memahami dan menghargai terhadap sesama, kami tidak pernah belajar mengenai dogma-dogma agama,”ungkapnya.
Dijelaskan, anggota perkumpulan Theosofi juga diikuti oleh sejumlah orang dari lintas agama. Setiap pertemuan biasanya perkumpulan Theosofi membahas berbagai hal yang imbang mengenai religi, sains dan filsafat. “Jadi ada banyak hal kami diskusikan dan lebih mengarah pada pengetahuan dan diikuti oleh beragam agama,”ujarnya.

Sementara itu, Wakil ketua Perwathin Sanggar Sala, Drs. H Suyanto mengaku sudah sejak puluhan tahun lalu menganut kepercayaan kejawen dan kerap mengikuti acara kajian yang digelar perkumpulan Theosofi. “Karena saya merasa cocok dan nyaman dengan perkumpulan ini, yang diajarkan juga mengenai menjadi manusia saling menghormati dan tidak saling membenci,”ujarnya.
Menurutnya, anggota Theosofi juga mengagumi sosok Gus Dur sebagai tokoh Pluralisme di Indonesia. “Yang jadi panutan kami  itu seperti sosok Gus Dur, beliau sangat menjunjung keberagaman dan menghargai perbedaan,” ucapnya.
Sekedar diketahui, Perkumpulan Theosofi di Indonesia pertama kali didirikan di Kabupaten Pekalongan pada 1900 silam. Hingga kini perkumpulan Theosofi masih tetap eksis di sejumlah daerah seperti Surakarta,Semarang dan Jogyakarta.(HERKY/EKO)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak