Penjagaan terhadap spirit
sunnah Nabi telah dilakukan oleh Abdul Mufid, seorang akademisi, dosen, dan
peneliti muda asal Pati Jawa Tengah saat menyampaikan presentasinya dihadapan
ribuan peserta pada acara konferensi internasional yang dihelat oleh UIN Malang,
Fakultas Humaniora, Jurusan Bahasa dan Sastra Arab melalui aplikasi zoom pada
tanggal 18 – 19 September 2021. Konferensi diikuti kurang lebih 35 negara di
dunia, baik negara Arab, Barat, Asia, maupun Asean. Turut serta dalam acara
tersebut pemateri utama, Prof. Dr. Ali Abdul Muhsin al-Hudaibi dari Kairo
Mesir, Prof. Dr. Mujiburrahman dari India, dan para pemateri lainnya.
Dosen muda dari STAI
Khozinatul Ulum Blora, Abdul Mufid, yang mengambil tema paper berjudul Sunnah
Nabi dan Realitas Masa yang akan Datang: Respon Sunnah Nabi Terhadap Proyek
Islamisasi Ilmu Pengetahuan, memaparkan bahwa proyek Islamisasi ilmu pengetahuan
merupakan salah satu tren intelektual yang digelindingkan dalam ranah Islam
kontemporer. Tren ini menarik minat yang besar, tetapi justru menimbulkan
perdebatan yang luas. Namun yang jelas, menurutnya, bahwa Islamisasi ilmu
pengetahuan adalah salah satu upaya untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke
dalam ilmu pengetahuan.
Pemaparan materi yang
berdurasi hanya tujuh menit itu dibagi dalam dua hari. Hari pertama diikuti
tiga pemateri utama yang kemudian dilanjutkan dengan pemateri dari para partisipan.
Penyampaian mater di hari pertama dikelompokkan ke dalam empat ruang, yakni
ruang A, ruang B, ruang C, dan ruang D. Ruang A di hari pertama (18 September
2021) diikuti oleh 11 pemateri yang berasal dari berbagai negara di dunia,
yakni Indonesia, India, Iraq, Mesir, dan Tailand. Ruang B pada hari pertama
diikuti oleh 10 pemateri yang berasal dari India, Indonesia, Tunisia, Mesir,
Aljazair, Iraq, Maroko, Kamerun, dan Kashmir. Ruang C di hari pertama diikuti
oleh 11 pemateri yang berasal dari Aljazair, Rabath, Pakistan, Indonesia,
Yordania, Malaysia, dan Nigeria. Sementara itu yang berada di ruang D pada hari
pertama sebanyak 10 pemateri dari Iraq, Maroko, Indonesia, China, India, dan
Syria.
Sedangkan pada hari kedua (19
September 2021) mengahdirkan tiga pemateri utama, yakni dari Malaysia, India,
dan Indonesia. Sama seperti ketentuan pada hari pertama, hari kedua pun ini
membagi ruang ke dalam empat ruangan, yakni ruang A, ruang B, ruang C, dan
ruang D. Ruang A terdapat 15 pemateri yang berasal dari Malaysia, Saudi Arabia,
Indonesia, Aljazair, Nigeria, dan Maroko. Ruang B terdapat 16 pemateri yang
berasal dari Aljazair, Indonesia, Sudan, India, Iraq, Kashmir, dan Mesir.
Sementara itu ruang C di hari kedua terdapat 17 pemakalah yang berasal dari Babilonia,
Aljazair, Indonesia, India, Nigeria, Maroko, dan Pakistan. Sedangkan di ruang D
pada hari kedua terdapat 16 pemateri yang berasal dari Aljazair, Lebanon,
Sudan, Babilonia, Indonesia, Kashmir, Tunisia, Kamerun, dan Maroko.
Pada akhir sesi penyampaian materi, peneliti muda asal Pati itu menegaskan kembali bahwa tujuan dari Islamisasi ilmu pengetahuan adalah upaya memecahkan masalah-masalah yang timbul karena perjumpaan antara Islam dengan sains modern sebelumnya, atau akibat dari adanya dikotomi antara ilmu pengetahuan dengan agama yang dipengaruhi oleh paham sekuler. Proyek Islamisasi ilmu pengetahuan ini menekankan pada keselarasan antara Islam dan sains modern tentang sejauhmana sains dapat bermanfaat bagi umat Islam. (TEAM)



